Memperkenalkan Baitul Mal di Masyarakat

Saturday, August 4, 20120 comments

Sebagai sebuah lembaga keuangan, nama Baitut Tamwil muncul pertama kali di kota Bandung sekitar tahun 1980-an. Pada waktu itu, kelompok aktivis musholla Salman di lingkungan Institut Teknologi Bandung mendirikan Baitut Tamwil dengan nama “Teknosa”. Dari lingkungan kampus ini, oleh kelompok Amin Aziz, Dawam Raharjo, dan Adi Sasono dibawa ke Jakarta dengan mendirikan koperasi yang berjalan dengan prinsip syari’ah.

Mereka menamai koperasi tersebut dengan “Ridlo Gusti”. Namun sayang, iklim politik pada saat itu belum berpihak pada sistem ekonomi kerakyatan apalagi ekonomi syari’ah. Hingga pada akhirnya Juni 1992, Aries Mufti menggabungkan konsep Baitul Maal (lembaga sosial) dengan Baitut Tamwil (lembaga bisnis), yang kemudian berdiri sebuah Baitul Maal Wat Tamwil yang bernama “Insan Kamil”. Secara financial, Baitul Maal menggali dana dari zakat, infak dan shodaqah (ZIS), sedangkan Baitut Tamwil merupakan akumulasi simpanan shohibul maal. Dengan demikian, Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) merupakan intermediasi antara aghniya dan dhu’afa.

Secara konseptual, BMT merupakan Balai Usaha Mandiri Terpadu yang memiliki one stop service sebagai pelaksana pengembangan ekonomi mikro syari’ah. Dalam pengembangan tersebut, BMT didirikan sesuai dengan kultur (budaya) dan karakter masyarakat lokal Islam Indonesia, sehingga walaupun sebagai lembaga informal BMT begitu mengakar di masyarakat kelas bawah. Dengan menggunakan pola solidaritas, pelatihan dan pencerahan, BMT sebagai penyedia layanan jasa keuangan syari’ah berusaha memberdayakan umat secara mandiri menuju kepada kesejahteraan.

Ini adalah sebuah usaha yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian, sebab pemberdayaan terhadap masyarakat (umat) terutama rakyat kecil merupakan agenda memandirikan masyarakat melalui pembiayaan usaha. Sebagai bangsa yang memiliki label berkarakter klien (bangsa yang ketergantungan oleh patron), sudah saatnya kita memacu gerak transformasi menuju bangsa yang mandiri.

Kemandirian bangsa yang menjadi sebuah cita-cita masa depan kita (umat), harus ditopang dengan kekuatan sumber kemampuan kreatif dan upaya penggunaan teknologi. Dengan demikian, kondisi sosiopolitik ekonomi global saat ini dapat dihadapi dengan cara mengambil giliran sebagai golongan yang “mencipta” (creating) dan “menyumbang” (contributing), setelah sekian lama menjadi pengguna produk orang lain (consumer).

Di sinilah partisipasi aktif umat sebagai sumber kekuatan trasnformasi sosial di Indonesia diperlukan. Yaitu melalui solidaritas sebagai pilar utama pembangunan, pelatihan sebagai pilar utama pendidikan dan pencerahan sebagai pilar utama kesejahteraan.
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BMT BUS GODEAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger